Friday, September 20, 2013

SENI DAN BUDAYA BETAWI I

MACAM-MACAM SENI DAN BUDAYA BETAWI

Betawi atau Jakarta merupakan sebuah kota yang terbentuk dari berbagai macam etnis dan budaya. Suku Betawi yang memiliki toleransi besar dalam bermasyarakat, juga memberlakukan hal yang sama terhadap budayanya. Berbagai kesenian tradisional Betawi dapat berkembang dan digemari oleh masyarakat luas, bukan hanya masyarakat Betawi, karena merupakan perpaduan berbagai unsur budaya.

Kesenian Betawi tersebut antara lain :

1. Lenong
2. Topeng Blantek
3. Tari Topeng
4. Ondel-ondel
5. Wayang Betawi
6. Sambrah
7. Gambang Keromong 
8. Rebana
9. Tanjidor dan sejenisnya
10.Gamelan.

1. Lenong.


Lenong sebagai tontonan, sudah dikenal sejak 1920-an. Almarhum Firman Muntaco, seniman Betawi terkenal, menyebutnya kelanjutan dari proses teaterisasi dan perkembangan musik Gambang Kromong. Jadi, Lenong adalah alunan Gambang Kromong yang ditambah unsur bodoran alias lawakan tanpa plot cerita.

Kemudian berkembang menjadi lakon-lakon berisi banyolan pendek, yang dirangkai dalam cerita tak berhubungan. Lantas menjadi pertunjukan semalam suntuk, dengan lakon panjang utuh, yang dipertunjukkan lewat ngamen keliling kampung. Selepas zaman penjajahan Belanda, lenong naik pangkat, karena mulai dipertunjukkan di panggung hajatan. Baru di awal kemerdekaan, teater rakyat ini murni menjadi tontonan panggung. Saat itu, dekornya masih sangat sederhana, berupa layar sekitar 3×5 meter bergambar gunung, sawah, hutan belantara dengan pepohonan besar, rumah-rumah kampung, laut dan perahu nelayan serta balairung istana dengan tiang-tiangnya yang besar. Alat penerangannya pun tradisional, berupa colen, obor tiga sumbu yang keluar dari ceret kaleng berisi minyak tanah. Sebelum meningkat jadi petromaks.

Walaupun terus menyesuaikan diri dengan maunya zaman, untuk terus survive, lenong harus berjuang keras. Dan ini tak mudah. Tahun 60′-an, masih dengan mengandalkan durasi pertunjukan semalam suntuk dan konsep dramaturgi sangat sederhana, lenong mulai kedodoran. “Rasanya, kami seperti berada di pinggir jurang,” cetus S.M Ardan, sastrawan dan sineas Betawi yang kini aktif di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta.


2.Topeng Blantek.



Topeng Blantek hampir sama dengan Topeng Betawi terutama dari gaya teater, bedanya Topeng Blantek dimainkan tanpa panggung dan hanya menggunakan tanah lapang, dan tanpa layar untuk menggambarkan suasana. Pada awalnya, menurut keterangan Marhasan, Blantek tidak menggunakan alat musik, kecuali tetabuhan sederhana, namun seiring perkembangannya Blantek menggunakan satu rebana biang, dua rebana anak, dan satu perkusi. Musik Gambang  Kromong pun digunakan sebagai musik pengiring, seperti yang dilakukan oleh Panker Group, salah satu kelompok yang masih menampilkan pertunjukkan Topeng Blantek.
Menurut keterangan Marhasan, tokoh pelestari topeng blantek dari Panker Group, Sebenarnya boleh dikatakan cikal bakal kesenian tradisional Betawi saat ini seperti gambang kromong, samrah, lenong dan lain sebagaianya berawal dari topeng blantek. Tapi, minimnya dukungan pemerintah dan sepinya kegiatan pertunjukkan membuat kesenian topeng blantek nyaris tak popular di tengah masyarakat.

Adapun mengenai asal-usul nama kesenian ini berasal dari dua suku kata, yaitu topeng dan blantek. Istilah topeng berasal dari bahasa Cina di zaman Dinasti Ming. Kata ‘Topeng’ bukan mengacu pada arti topeng yang kita kenal dalam bahasa Indonesia dewasa ini, Topeng yang dimaksud berasal  dari kata to dan peng. To artinya sandi dan peng artinya wara. Jadi topeng itu bila dijabarkan berarti sandiwara.
Sementara, untuk kata ‘Blantek’ ada beberapa pendapat. Ada yang mengatakan berasal dari bunyi-bunyian musik yang mengiringinya, yaitu satu rebana biang, dua rebana anak dan satu kecrek yang menghasilkan bunyi, blang blang crek. Namun, karena lidah lokal ingin enaknya saja dalam penyebutan maka munculah istilah blantek. Pendapat lainnya mengatakan, asal nama blantek berasal dari Inggris, yaitu blindtexs, yang berarti buta naskah. Marhasan,  permainan blantek dahulu kala tidak memakai naskah dan sutradara dan hanya memberikan gagasan-gagasan secara garis besar pada cerita yang akan dimainkan.

Masih menurut keterangan Marhasan; surutnya kesenian Blantek juga dikarenakan adanya kesenian-kesenian tradisional Betawi lainnya seperti lenong, topeng Betawi, samrah, gambang kromong dan lain sebagainya. Walau begitu, sebetulnya Topeng Blantek ini sempat berusaha dimunculkan kembali oleh Gubernur Ali Sadikin pada1972.  Kesenian ini dikembangkan dan ditampilkan ke depan publik oleh Ras Barkah. Bersama Kelompok Si Barkah. Ras Barkah merekrut banyak pemain muda, dan tampil di berbagai festival. Ras Barkah pun melakukan pengembangan kesenian topeng blantek ke bentuk yang lebih sempurna, namun tidak meninggalkan keasliannya.

Saat era Ras Barkah, kesenian topeng blantek sempat tumbuh subur hingga ada 25 sanggar dengan rincian, Jakarta Barat 10, Jakarta Utara 3, Jakarta Timur 5, Jakarta Pusat 3, dan Jakarta Selatan 4 sanggar. Kesenian ini sempat mencapai masa keemasannya ketika digelarnya festival pada 26-31 Mei 1994 selama lima hari berturut-turut atas kerja sama Dinas Kebudayaan DKI Jakarta dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) dan yayasan Seni Budaya Jakarta.
Hanya saja, kondisi kesenian Topeng Blantek kian mengkhawatirkan, terutama sepeninggal Ras Barkah pada 2007.  Upaya melestarikan topeng blantek mulai terkendala modal dan sulitnya mencari generasi penerus serta diperparah dengan tak adanya perhatian dari pemerintah untuk turut melestarikan kesenian topeng blantek. Akibatnya, satu-persatu sanggar-sanggar tersebut berguguran. Hingga saat ini untuk wilayah Jakarta Barat saja hanya tersisa empat sanggar. Keempat sanggar tersebut pun dalam keadaan yang tidak begitu bagus; dua di antaranya nyaris bubar, sementara dua lainnya, yaitu Panker Group dan Ibnu Sina relayif masih berlatih secara rutin.  

Topeng Blantek hampir sama dengan Topeng Betawi terutama dari gaya teater, bedanya Topeng Blantek dimainkan tanpa panggung dan hanya menggunakan tanah lapang, dan tanpa layar untuk menggambarkan suasana. Pada awalnya, menurut keterangan Marhasan, Blantek tidak menggunakan alat musik, kecuali tetabuhan sederhana, namun seiring perkembangannya Blantek menggunakan satu rebana biang, dua rebana anak, dan satu perkusi. Musik Gambang  Kromong pun digunakan sebagai musik pengiring, seperti yang dilakukan oleh Panker Group, salah satu kelompok yang masih menampilkan pertunjukkan Topeng Blantek.

Menurut keterangan Marhasan, tokoh pelestari topeng blantek dari Panker Group, Sebenarnya boleh dikatakan cikal bakal kesenian tradisional Betawi saat ini seperti gambang kromong, samrah, lenong dan lain sebagaianya berawal dari topeng blantek. Tapi, minimnya dukungan pemerintah dan sepinya kegiatan pertunjukkan membuat kesenian topeng blantek nyaris tak popular di tengah masyarakat.

3.Tari Topeng.


Masyarakat Jakarta asli atau dikenal dengan suku Betawi mempunyai banyak kesenian, salah satunya adalah Topeng Betawi. Topeng Betawi sedikitnya memiliki tiga unsur utama yaitu : musik, tari, dan teater. Tarian yang terkandung dalam Topeng Betawi inilah yang disebut Tari Topeng Betawi.

Mengapa menggunakan “topeng”? Ini  dikarenakan dahulu masyarakat Betawi menganggap Topeng memiliki kekuatan magis. Selain dapat menolak bala, juga dinilai mampu menghilangkan kedukaan karena kematian, sakit, atau pun petaka lainnya. Selain itu, masyarakat Betawi menggunakan pendekatan berbeda mengenai istilah topeng. Mungkin bagi banyak orang, topeng itu adalah kedok (penutup wajah). Namun, tidak untuk masyarakat Betawi. Masyarakat Betawi menggunakan “topeng” untuk istilah pertunjukan. Anda pasti kenal kesenian yang bernama Topeng Monyet, bukan? Ya, kesenian yang biasa Anda temui di Jakarta dan sekitarnya ini adalah pertunjukkan yang menampilkan atraksi dari monyet yang terlatih.

Jadi, Topeng Betawi dapat diartikan pertunjukan dalam bentuk teater yang mengandung aspek tari, nyanyi, narasi dengan dialog maupun monolog. Para penarinya menggunakan topeng yang mirip dengan Topeng Banjet Karawang Jawa Barat, namun dalam berbeda dari segi bahasa dimana dalam Topeng Betawi memakai bahasa Betawi.
Salah seorang tokoh seniman Betawi terkenal yang telah mengusung aneka tari-tarian Betawi khususnya Tari Topeng hingga ke mancanegara adalah Entong Kisam. Dirinya sudah berkeliling ke 5 benua, serta 33 negara. Perlu diketahui bahwa negara yang paling sering ia lawati bersama grup tari topengnya adalah Perancis, Cina dan Thailand.

Khusus bagi masyarakat Betawi, Topeng Betawi digunakan dalam ritual kehidupan yang dianggap cukup penting, seperti pernikahan dan khitanan. Pada kedua ritual itu, Topeng Betawi digelar untuk memeriahkan pesta. Selain itu, Topeng Betawi juga digelar dengan tujuan membayar nazar. Meskipun harus membayar mahal untuk sebuah pertunjukan Topeng Betawi, namun rasanya hal itu tidak menjadi persoalan. “Biar tekor asal kesohor” begitu ungkapan kalangan masyarakat Betawi tertentu dalam menjaga image status sosiainya. Nah, bila si empunya hajat ingin menggelar Topeng Betawi, ia lebih dulu membayar panjer (uang muka) pada grup yang telah dipilih. Setelah ada kesepakatan biaya, kekurangannya akan dibayar pagi setelah pesta usai. Uangnya diambil dari amplop sumbangan dari para tamu yang hadir.

Seiring pergantian zaman, nampaknya Topeng Betawi juga telah mengalami perubahan yang cukup signifikan. Tercatat ada lima bentuk perubahan yang disebabkan oleh urutan waktu dalam sejarah.

Pertama, esensi Topeng yang sakral dan magis tak lagi menjadi motivasi bagi yang punya hajat. Topeng tak lagi berfungsi sebagai penolak bala atau nazar bagi anak yang sering sakit-sakitan. Masyarakat Betawi lebih percaya rumah sakit atau puskesmas untuk mengobati seseorang yang sakit.

Kedua, pagelaran yang diselenggarakan dalam lingkup tradisi yaitu acara pernikahan dan khitanan, juga mengalami pergeseran ke acara yang lebih bersifat nasional.

Ketiga, keragaman estetika yang muncul di antara orang-orang Betawi pun mulai menghilang karena masuknya para pendatang ke daerah orang-orang Betawi. Termasuk berbagai bentuk kedok yang memperlihatkan keragaman topeng, hilang secara perlahan lahan.

Keempat, durasi seni pertunjukan mengalami pergeseran. Jika dulu (tahun 70-an) masih berlangsung hingga pukul 4 pagi, lama kelamaan bergeser durasinya, sekarang paling lambat pukul 3 harus sudah selesai. Ini dikarenakan orang-orang harus bersiap diri untuk sholat Subuh agar tidak kesiangan.

Kelima, narasi pagelaran Topeng, tak lagi mengangkat tema kemiskinan di wilayah-wilayah tuan-tuan tanah, dan telah beralih dengan mengunakan isu nasional yang kadang-kadang menjadi legitimasi kepentingan politik tertentu.
Bisa dirasakan, berkembangnya zaman telah merubah historical sequences dari Topeng Betawi. Tidak saja secara fisik tetapi juga ideologinya.

Dengan kata lain, telah terjadi pertumbuhan keragaman budaya, dalam hal ini keragaman pagelaran Topeng Betawi. Itu bisa dimaklumi, mengingat rasa memiliki terhadap budaya Betawi, kini bukan hanya milik orang Betawi saja, tapi juga dimiliki para pendatang yang ingin melestarikan budaya Betawi menurut zamannya.


4.Ondel-ondel.



Ondel-ondel adalah bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat. Nampaknya ondel-ondel memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.

Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih. Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang ada di beberapa daerah lain.

Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, sedangkan di Bali lebih dikenal dengan nama Barong Landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa.

Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel masih bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.

5.Wayang Betawi.
 
   A. Wayang Kulit Betawi


Wayang adalah salah satu khazanah budaya tanah air yang banyak ditemui di berbagai daerah, terutama di Jawa. Wayang yang amat dekat dengan masyarakatnya, kerap dimanfaatkan sebagai media penyebar berbagai informasi. Wayang, tumbuh dan berkembang seiring dengan masyarakatnya, ia mampu merubah bentuk dan tetap mendapat tempat, sekecil apapun itu

Jakarta, sebagai pusat negara, juga memiliki seni tradisional wayang. Orang banyak menyebutnya dengan wayang kulit Betawi. Jenis kesenian di Betawi ini, konon lahir ketika Sultan Agung dari Kerajaan Mataram menginjakkan kakinya di tataran Sunda Kelapa. Selain membawa pasukan, turut pula rombongan kesenian wayang kulit.

Ternyata tampilan wayang dari Mataram ini begitu memukau penduduk setempat, khususnya yang berdiam di kawasan Tambun, Bekasi. Kemudian muncullah satu bentuk baru dari wayang kulit Jawa, yaitu wayang yang berbahasa Melayu Betawi, Wayang Kulit Betawi.

Seperti halnya seni wayang lain, wayang kulit Betawi memilik tokoh sentral, seorang dalang. Sebagaimana lazimnya, wayang kulit Betawi ini juga menggunakan kelir, yang disini disebut “kere”. Alat musik pengiringnya terdiri dari kendang, terompet, rebab, saron, keromong, kecrek, kempul dan gong. Yang tampak lain dalam wayang kulit Betawi adalah, masuknya unsur Sunda yang kental. Meski dialog dengan bahasa Betawi, namun musik pengiring hingga lantunan lagunya berasal dari tanah Pajajaran.

Sepintas, tak ada perbedaan yang berarti dengan wayang kulit lainnya. Hanya barangkali bentuk gapit atau pegangan wayang, pada wayang kulit Betawi tak dijumpai bahan tanduk, namun menggunakan rotan. Wayang kulit Betawi juga didominasi warna merah cerah.

Lakon yang sering dimainkan adalah carangan, cerita yang disusun sendiri oleh dalang dengan tokoh-tokoh dari cerita Mahabharata. Cerita lain khas Betawi adalah Bambang Sinar Matahari, Cepot Jadi Raja dan Barong Buta Sapujagat. Umumnya, cerita yang dimainkan sangat kontekstual dengan keadaan masyarakat sekitar. Oleh karena itu, wayang kulit Betawi penampilannya lebih bebas, lebih demokratis. Logatnyapun akrab dengan masyarakat Betawi, dan dialog yang ditampilkan menggunakan bahas Indonesia pergaulan, mudah dipahami segala lapisan masyarakat dari berbagai suku.

Hanya saja, orang Betawi diyakini hanya menggemari cerita yang seru dan lucu, sehingga kedua lakon inilah yang kerap dikedepankan para dalangnya. Ada perang dan kaya banyolan.

Walau tampilannya begitu komunikatif, wayang kulit Betawi tak sepopuler wayang kulit Jawa. Selama ini, wayang kulit Betawi hanya dimainkan di daerah pinggiran, lokasi asal tumbuhnya wayang kulit Betawi. Sepanjang perjalanan riwayatnya, wayang kulit Betawi tampil dengan penuh kesederhanaan, sehingga boleh dibilang menepikan aspek estetika, moral dan falsafah.

Di balik kesederhanaan tampilannya, wayang kulit Betawi justru sebenarnya memiliki peluang untuk tumbuh. Ia memiliki kekuatan dalam penggunaan bahasa. Selama ini, bahasa kerap menjadi halangan untuk mengenal seni wayang. Pada wayang kulit Betawi, tidak. Ia justru kekuatan. Tinggal sang dalanglah yang mengemasnya menjadi sebuah tontonan memikat.


    B. Wayang Golek Betawi







6.Samrah.


Tak berlebihan rasanya bila dikatakan, nasib kesenian tradisional Betawi kini tidak ubahnya pakaian pesta yang hanya dikenakan satu tahun sekali untuk memeriahkan pesta ulang tahun Jakarta. Di saat-saat lain, kesenian itu bagaikan terlupakan, sepi dari perhatian banyak orang.

Salah satu kesenian tradisional yang mengalami nasib demikian adalah Samrah. Padahal, kesenian itu muncul dari kawasan yang akrab dikenal hampir semua warga Ibu Kota seperti Tanah Abang di Jakarta Pusat, tempat pasar tekstil terbesar Jakarta berada.

Samrah, sebenarnya merupakan gabungan seni musik Betawi, Arab, dan India. Di abad ke-18, Tanah Abang yang sudah menjadi kawasan pusat perdagangan banyak dihuni oleh pedagang dari berbagai tempat, kebanyakan dari Betawi, Arab dan India. Mereka menggabungkan seni musik asal daerah masing-masing, yang kemudian menghasilkan apa yang kini dikenal sebagai Samrah.

“Sudah adat orang Betawi, kalau malam terang bulan, berkumpul, bermain musik dan bernyanyi beramai-ramai. Itu dikenal sebagai acara bertukar pantun. Alat musiknya hanya gendang dan tamborin. Kemudian orang Arab datang membawa gambus, orang Melayu membawa biola dan orang India membawa harmonium. Jadilah Samrah,” kata pemimpin kelompok seni Samrah Betawi Rumpun Melayu, M. Ali Sabeni.

Gendang yang dipakai sebagai instrumen utama di musik dangdut adalah berasal dari tipe gendang di Samrah. Begitu halnya, gitar gambus yang awalnya menjadi instrumen “wajib” di Samrah malah ‘pulang-kandang’ ke jenis musik aslinya yang beraliran Timur-Tengah dengan lagu- lagu kebanyakan berbahasa Arab.



7.Gambang Keromong.


Gambang kromong (atau ditulis gambang keromong) adalah sejenis orkes yangmemadukan gamelan dengan alat-alat musik Tionghoa, seperti sukong, tehyan, dankongahyan [1]. Sebutan gambang kromong diambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitugambang dan kromong. Awal mula terbentuknya orkes gambang kromong tidak lepas dari seorang pemimpin komunitas Tionghoa yang diangkat Belanda (kapitan Cina) bernama Nie Hoe Kong (masa jabatan 1736-1740)[2].
Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari kayu suangking, huru batu,manggarawan atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10 buah (sepuluh pencon). Tangga nada yang digunakan dalam gambang kromong adalah tangga nada pentatonik Cina[1], yang sering disebutsalendro Cina atau salendro mandalungan. Instrumen pada gambang kromong terdiri atasgambang, kromong, gong, gendang, suling, kecrek, dan sukong, tehyan, atau kongahyansebagai pembawa melodi.
Orkes gambang kromong merupakan perpaduan yang serasi antara unsur-unsur pribumi dengan unsur Tionghoa. Secara fisik unsur Tionghoa tampak pada alat-alat musik gesek yaitusukong, tehyan, dan kongahyan. Perpaduan kedua unsur kebudayaan tersebut tampak pula pada perbendaharaan lagu-lagunya. Di samping lagu-lagu yang menunjukkan sifat pribumi, seperti lagu-lagu Dalem (Klasik) berjudul: Centeh Manis Berdiri, Mas Nona, Gula Ganting,Semar Gunem, Gula Ganting, Tanjung Burung, Kula Nun Salah, dan Mawar Tumpah dan sebagainya, dan lagu-lagu Sayur (Pop) berjudul: Jali-jali, Stambul, Centeh Manis, Surilang,Persi, Balo-balo, Akang Haji, Renggong Buyut, Jepret Payung, Kramat Karem, Onde-onde,Gelatik Ngunguk, Lenggang Kangkung, Sirih Kuning dan sebagainya, terdapat pula lagu-lagu yang jelas bercorak Tionghoa, baik nama lagu, alur melodi maupun liriknya, seperti Kong Ji Liok, Sip Pat Mo, Poa Si Li Tan, Peh Pan Tau, Cit No Sha, Ma Cun Tay, Cu Te Pan, Cay Cu Teng, Cay Cu Siu dan sebagainya.
Lagu-lagu yang dibawakan pada musik gambang kromong adalah lagu-lagu yang isinya bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran[1]. Pembawaan lagunya dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuansebagai lawannya[1].
Gambang kromong merupakan musik Betawi yang paling merata penyebarannya di wilayah budaya Betawi, baik di wilayah DKI Jakarta sendiri maupun di daerah sekitarnya (Jabotabek). Jika terdapat lebih banyak penduduk peranakan Tionghoa dalam masyarakat Betawi setempat, terdapat lebih banyak pula grup-grup orkes gambang kromong. Di Jakarta Utara dan Jakarta Barat, misalnya, terdapat lebih banyak jumlah grup gambang kromong dibandingkan dengan di Jakarta Selatan danJakarta Timur[3].
Dewasa ini juga terdapat istilah "gambang kromong kombinasi"[4]. Gambang kromong kombinasi adalah orkes gambang kromong yang alat-alatnya ditambah atau dikombinasikan dengan alat-alat musik Barat modern seperti gitar melodis, bas, gitar, organ, saksofon, drum dan sebagainya, yang mengakibatkan terjadinya perubahan dari laras pentatonik menjadi diatonik tanpa terasa mengganggu[5]. Hal tersebut tidak mengurangi kekhasan suara gambang kromong sendiri, dan lagu-lagu yang dimainkan berlangsung secara wajar dan tidak dipaksakan[5].

8.Rebana.


Di antaranya jenis musik Betawi yang populer di Jakarta, Rebana ini adalah salah satunya. Rebana adalah sebuah alat musik berkulit yang bernafaskan Islam yang digunakan sebagai sarana upacara peringatan keagamaan Maulid Nabi Muhammad SAW, atapun pernikahan, khitanan, kenduri dan sebagainya. 
Walaupun populer, siapa sangka ternyata asal usul Rebana ini masih kontroversi karena banyak muncul perbedaan pendapat di kalangan pakar kesenian Betawi. Ada yang berpendapat Rebana ini diciptakan oleh Pak Saiman dari aspirasinya ketika air hujan rintik-rintik diatap rumahnya yang bocor. Namun pernyataan tersebut tidak akurat. Tidak disinggung siapa itu Pak Saiman, dimana tempat tinggalnya dan sejak kapan memperkenalkan kepada khalayak dan kapan mulai dikembangkan.
Ada pula yang mengatakan Rebana ini bukanlah ada karena pengaruh dari Bali, akan tetapi pengaruh dari Arab, terutama karena lagu-lagu pujian-pujian terhadap nilai yang diiringi dengan rebana, kendati pun di Arab tidak ada jenis musik yang dinamakan Rebana.
Pendapat lain mengatakan, Rebana justru bukan berasal dari Bali, atau bukan dari Betawi, akan tetapi berasal dari daerah Sumatera Selatan, yang berfungsi untuk upacara-upacara, salah satunya Maulud dan lain-lain. Sebagai alat musik pengiring nyanyian yang mempergunakan prosa-prosa Arab tinggi (bukan ayat-ayat Al Quran) karena mulanya Rebana banyak digelar di Masjid-masjid, Surau dan di tengah komunitas Muslim. Walaupun musik Rebana lebih kencang ditindih puji-pujian yang memuliakan asma Allah dan menggunakan bahasa Arab, namun ada pula yang mengatakan Rebana bukan dari Timur Tengah.
kan tetapi terlepas dari beragam pendapat di atas, Rebana Betawi ini terdiri atas bermacam-macam jenis dan nama, seperti rebana ngarak, rebana dor, dan rebana biang. Sebutan rebana ketrimping, mungkin, karena adanya tiga pasang ´kerincingan´, yakni semacam krecek. Rebana ngarak digunakan untuk mengarak pengantin pria menuju rumah pengantin wanita. Disebut Rebana Biang, karena bentuknya yang besar. Jenis musik perkusi dan bermembran ini biasa dimainkan di kampung-kampung, di Masjid, Surau dan tempat-tempat lainnya yang memungkinkan bisa diakses untuk menghibur. Mengiringi berbagai permainan dengan nyanyian dan gerak tari.
Di Betawi, permainan rebana biasanya dilakukan dengan menyanyikan lagu-lagu kasidah dan seringkali dalam berbagai keriyaan yang bertalian dengan budaya Islam, seperti Mauludan, Lebaran, Khitanan, Pernikahan, dan lain-lain. Selain Rebana Biang yang berukuran gede bergaris tengah mencapai 20 s/d 25 Cm, juga masih ada Rebana Ketimpring berukuran sedang dan pinggirannya terdapat ombyokan logam berbentuk bulat tipis.
Selain itu ada jenis Rebana Betawi lainnya seperti Rebana Jati, Rebana Rakep, Rebana Gedak, dan banyak lagi nama Rebana-rebana lainnya menurut istilah dan fungsinya bagi masyarakat Betawi tempo dulu menjadi kegembiraan dan kebanggaan. Rebana Jati – untuk upacara-upacara, Rebana Rakep – untuk mengarak/mengiringi pengantin, Rebana Gedak – mempergunakan pantun Indonesia.

9.Tanjidor.

Tanjidor adalah salah satu musik tradisional Betawi yang sekarang sudah mulai jarang ditemukan. Tanjidor adalah salah satu jenis musik yang banyak mendapat pengaruh dari musik Eropa. Kata "tanjidor" adalah kata dalam bahasa Portugis tangedor, yang artinya "alat - alat musik berdawai". Dalam kenyataanya, arti kata tanjidor tidak sesuai dengan alat - alat musik yang dimainkan, dalam tanjidor, alat - alat musik yang dimainkan kebanyakan adalah alat musik tiup seperti, karinet, trombon, piston, seksofon. Secara lengkap instrumen musik yang digunakan dalam orkes tanjidor adalah klarinet, pistone, trombon, terompet, seksofon tenor, seksofone bass, drum, simbal, side drum. Biasanya pemain tanjidor terdiri dari 10 - 7 orang pemain musik dan 1 - 2 orang penyanyi. Musik yang muncul pada abad ke-18 ini, pada zaman dahulu sering dimainkan oleh para sekelompok petani yang menghabiskan waktunya setelah musim panen. Mereka biasanya menunjukan kebolehan mereka dengan cara mengamen dari rumah ke rumah, dari restoran ke restoran.

Pada zaman dahulu tanjidor juga sering ditampilkan dalam acara - acara besar, seperti acara Hari besar islam, parayaan cina yang sering disebut "Cap Go Meh", atau bisa ditemukan juga pada hari sedekah bumi yang menjadi tradisi masyarakat petani Cirebon. Namun pada akhir - akhir ini musik tanjidor sudah jarang sekali ditampilkan, munkin hanya sesekali saja, biasanya untuk sekarang - sekarang ini tanjidor hanya ditampilkan pada waktu Penyambutan tamu agung, Perhelatan/pengarakan pengantin. Adapun lagu - lagu yang sering dimainkan dalam orkes tanjidor adalah Kramton dan Bananas (yang merupakan lagu Belanda), Cente Manis, Keramat Karam, Merpati Putih, Surilang. Adapun lagu yang terkenal adalah Warung Pojok.

10.Gamelan.



Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok diIndonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesiapada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman KerajaanMajapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.[rujukan?]
Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, MagelangJawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini.
Interaksi komponen yang sarat dengan melodi, irama dan warna suara mempertahankan kejayaan musik orkes gamelan Bali. Pilar-pilar musik ini menyatukan berbagai karakter komunitas pedesaan Bali yang menjadi tatanan musik khas yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Namun saat ini gamelan masih digunakan pada acara-acara resmi seperti pernikahan, syukuran, dan lain-lain. tetapi pada saat ini, gamelan hanya digunakan mayoritas masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah.


No comments :

Post a Comment